maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Mewaspadai Kutukan Teknologi

Minggu, 8 Desember 2013

Ahmad Sahidah,
Dosen Universitas Utara Malaysia

Ketika bulan purnama hadir, dulu warga kampung saya tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Mereka menyambut sinar terang dengan bercengkerama di halaman rumah tanpa pagar. Sementara itu, anak-anak memanjakan diri dengan aneka permainan, dari hanya berlarian, petak umpet, hingga gobak sodor. Yang menarik, jika bulan gerhana, mereka membangunkan pohon agar tak tertidur dan mengusir sang raksasa agar memuntahkan bulan. Namun pemandangan seperti ini hadir ketika kampung belum dialiri listrik dan disihir televisi. Sekarang kebiasaan yang dimaksud musnah.

Orang tua lebih khusyuk di depan televisi. Anak-anak juga membetot acara sinetron yang tak cocok untuk usia mereka. Malangnya, tradisi kesenian lokal turut tergerus oleh hiburan dari televisi. Dulu, saya masih sempat menikmati sosio-drama lokal Albadar Mahajaya, di mana orang-orang kampung berjumpa di pasar tempat pergelaran dilangsungkan. Dengan mengangkat cerita para nabi atau kerajaan zaman dulu, drama ini mendekatkan orang ramai satu sama lain secara langsung. Betapa rumah telah menjadi penjara, bukan?

. tempo : 167012953972

Ahmad Sahidah,
Dosen Universitas Utara Malaysia

Ketika bulan purnama hadir, dulu warga kampung saya tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Mereka menyambut sinar terang dengan bercengkerama di halaman rumah tanpa pagar. Sementara itu, anak-anak memanjakan diri dengan aneka permainan, dari hanya berlarian, petak umpet, hingga gobak sodor. Yang menarik, jika bulan gerhana, mereka membangunkan pohon agar tak tertidur dan mengusir sang raksasa agar

...
Kuota Artikel Gratis Anda Sudah Habis

Silahkan berlangganan untuk menikmati akses penuh artikel eksklusif Tempo sejak tahun 1971

PAKET TERPOPULER

12 BULAN

696.000

Rp 594.000

  • *Anda hemat -Rp 102.000
  • *Update hingga 52 edisi Majalah Tempo

Pilihan Terbaik

Berlangganan

1 BULAN

Rp 54.945

  • *GRATIS untuk bulan pertama menggunakan Kartu Kredit

Lihat Paket Lainnya

Daftar Tempo ID . Sudah punya akun? Klik Disini

Newsletter

Dapatkan Ringkasan berita eksklusif dan mendalam Tempo di inbox email Anda setiap hari dengan Ikuti Newsletter gratis.

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 4 Desember 2022

  • 3 Desember 2022

  • 2 Desember 2022

  • 1 Desember 2022


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan