maaf email atau password anda salah


Mengenal Jenis-jenis Gas Alam serta Perbedaan LNG, LPG, dan CNG

Gas alam memiliki jenis dan kegunaan berbeda. Berikut ini jenis-jenis sumber daya alam tersebut beserta perbedaan LNG, LPG, dan CNG.

arsip tempo : 172112255080.

Pekerja melintas di area kilang PT Badak LNG (Liquid Natural Gas) di Bontang, Kalimantan Timur. Dok Tempo/Dhemas Reviyanto Atmodjo. tempo : 172112255080.

INDONESIA merupakan salah satu negara penghasil gas alam terbesar di dunia. Pada 2015, Indonesia masuk sepuluh negara teratas di dunia dalam produksi gas alam. Selain itu, Indonesia menduduki peringkat ketiga di kawasan Asia-Pasifik dalam hal cadangan gas alam terbesar setelah Australia dan Cina.

Gas alam memang menjadi salah satu sumber energi alam yang penting dan sangat berharga, terutama untuk mendukung sektor perindustrian, pembangkit listrik, dan sektor komersial, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut laporan CEIC Data, konsumsi gas alam di Indonesia pada 2021 sebesar 3.588 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD).

Jumlah permintaan gas alam atau gas bumi di Indonesia juga diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Karena itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan produksi minyak bumi sebesar 1 juta barel per hari dan gas bumi 12 BSCFD pada 2030. Nantinya produksi tersebut diprioritaskan untuk pembeli dalam negeri, mengingat gas alam menjadi salah satu sumber energi yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia.

Mengetahui pentingnya gas alam bagi kehidupan masyarakat, lantas apa itu gas alam dan apa saja jenis-jenisnya? Berikut ini informasinya.

Apa Itu Gas Alam?

Gas alam adalah sumber energi yang berasal dari fosil-fosil tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang terperangkap serta tersimpan dalam lapisan bumi selama ribuan hingga jutaan tahun. Gas alam juga sering kali ditemukan bersama minyak bumi di ladang minyak dan gas alam.

Keberadaannya memiliki beragam manfaat yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Bahkan banyak negara di dunia mengandalkan gas alam sebagai sumber utama energi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebagai salah satu sumber energi yang sangat bersih dan efisien, gas alam digunakan di berbagai sektor, termasuk industri, pembangkit listrik, rumah tangga, serta transportasi.

Gas alam dapat dibakar langsung untuk menghasilkan panas atau digunakan pada pembangkit listrik guna menghasilkan energi listrik. Selain itu, gas alam dapat diolah menjadi bahan bakar cair, seperti liquefied natural gas (LNG), atau dikompresi menjadi compressed natural gas (CNG) untuk digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.

Di Indonesia, gas bumi mulai dimanfaatkan pada 1960-an. Sejak saat itu, industri gas di Indonesia berkembang pesat. Bahkan Indonesia juga pernah menjadi eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Pada era Orde Baru, pemerintah pernah mengekspor LNG ke sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.

Menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, ada beberapa proyek besar gas alam yang didirikan di Indonesia, antara lain Blok A Aceh, East Natuna, IDD, Merakes, Tangguh Train 3, Asap-Kido-Merah, dan Abadi. Sedangkan pada 2021, cadangan gas alam Indonesia dilaporkan mencapai 41,62 triliun kaki kubik persegi (TSCF), dengan cadangan paling banyak berada di Maluku dan Papua.

Petugas memeriksa saluran gas compressed natural gas (CNG) di CNG Plant milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Muara Tawar, Bekasi, Jawa Barat. TEMPO/Tony Hartawan

Perbedaan LNG, LPG, dan CNG

Gas alam memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Di Indonesia, ada beberapa gas alam yang dapat ditemukan serta diolah menjadi beberapa jenis bahan bakar, seperti LNG, LPG, hingga CNG. Berikut ini beberapa perbedaan ketiganya. 

1. LNG (Liquefied Natural Gas)

LNG merupakan bentuk gas alam yang biasanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Gas alam jenis ini memiliki sifat-sifat khusus, seperti tidak berbau, tidak korosif, tidak mudah terbakar, dan tidak beracun. Salah satu keunggulan utama LNG adalah kemudahan dalam proses penyimpanannya sehingga transportasi dari satu fasilitas pengolahan ke fasilitas lain dapat dilakukan dengan mudah.

LNG terdiri atas gas metana dengan komposisi sekitar 90 persen metana (CH4), yang diubah menjadi bentuk cair dengan menurunkan suhunya menjadi -163 derajat Celsius pada tekanan atmosferis. Proses ini mengurangi volume gas menjadi sekitar 600 kali lebih kecil. Penyusutan volume ini memudahkan transportasi LNG dalam jumlah yang lebih besar.

LNG diangkut melalui kapal menuju terminal LNG dan disimpan dalam tangki dengan tekanan atmosferis. Kemudian LNG diubah kembali menjadi gas dan dialirkan melalui sistem transmisi. Meski begitu, ada beberapa kekurangan LNG, antara lain penggunaannya memerlukan infrastruktur yang kompleks.

2. LPG (Liquefied Petroleum Gas)

Gas alam jenis LPG paling populer di masyarakat karena digunakan secara luas sebagai bahan bakar untuk memasak dan sebagai isi korek api. Indonesia sendiri memiliki produksi LPG yang dikelola PT Pertamina (Persero) serta dipasarkan dengan nama elpiji. Gas ini terdiri atas komponen propana (C3H8) dan butana (C4H10). LPG dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, seperti LPG propana, LPG butana, dan LPG campuran yang merupakan kombinasi kedua jenis tersebut.

Elpiji dihasilkan melalui proses penyulingan minyak bumi atau melalui kondensasi gas bumi dalam kilang pengolahan gas alam. Pencairan gas alam menjadi bentuk cair (LPG) bertujuan mempermudah pengangkutan ke konsumen karena volume LPG jauh lebih kecil dibanding volume gas alamnya. Untuk menjaga agar LPG tetap berada dalam keadaan cair pada suhu kamar, LPG disimpan dalam tangki bertekanan (pressurized tank).

Jika dilihat dari sifatnya, LPG berbeda dengan LNG karena lebih mudah terbakar dan mudah meledak jika terjadi kebocoran atau paparan panas ekstrem. Karena itu, perlu ada perhatian ekstra dalam penanganan, penyimpanan, serta penggunaan LPG untuk mencegah kecelakaan yang dapat membahayakan jiwa dan harta benda.

3. CNG (Compressed Natural Gas)

CNG merupakan jenis gas alam yang dikompresi pada tekanan tinggi sehingga volumenya menjadi lebih kecil, sekitar 1/250 dari volume gas pada keadaan standar. Kompresi gas alam menjadi CNG bertujuan agar jumlah pengangkutannya lebih banyak sehingga memungkinkan transportasi yang efisien.

Berbeda dengan LPG, CNG tidak berbau dan tidak korosif. Namun penyimpanan CNG membutuhkan ruang yang luas dengan tekanan yang sangat tinggi untuk menjaga kemurniannya. Di Indonesia, CNG banyak dimanfaatkan untuk keperluan industri gas.

Seperti pengangkutan gas alam dalam bentuk LNG, pengangkutan CNG memerlukan fasilitas pengiriman dan penerimaan. Saat ini, pengangkutan CNG dilakukan menggunakan trailer. Proses transportasi CNG memerlukan tiga jenis fasilitas, yaitu fasilitas pengiriman (mother station), fasilitas transportasi, dan fasilitas penerimaan (daughter station).

RIZKI DEWI A. | VIVIA AGARTA F.

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juli 2024

  • 15 Juli 2024

  • 14 Juli 2024

  • 13 Juli 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan