maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Google

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin


Sang Kiai, Sang Pencerah, dan Sang Liyan

Mohammad Afifuddin,
MAHASISWA PASCASARJANA SOSIOLOGI FISIPOL UGM

Seorang kawan yang kebetulan santri tulen merasa tidak puas setelah menonton film Sang Kiai. Katanya, suasana yang digambarkan dalam film itu kurang kental ciri pesantrennya. "Enggak terasa girah pesantrennya," katanya sambil menunjukkan mimik muka kecewa. Pada waktu hampir bersamaan, salah seorang santri lain berkisah di laman Facebook-nya perihal pokok serupa. Agak detail dia merinci sisi-sisi minus film garapan Rako Prijanto itu. Intinya, riset historisnya relatif dangkal, dan cara para pemainnya dalam melafalkan ayat suci Al-Quran kurang fasih. Namun yang menarik adalah komentar kawan lainnya yang tidak pernah nyantri tapi gemar menganalisis film. Katanya, "Kok enggak ada adegan ngudut (merokok), ya? Kiai-kiai NU kan terkenal gemar ngudut."

Ya, itulah resepsi karya seni. Seperti halnya resepsi karya sastra, resepsi atau apresiasi terhadap film pun mutlak bernada subyektif. Namun saya tak hendak memperpanjang perdebatan soal persepsi. Bertolak dari sudut pandang lain, saya berniat menelusuri sisi ekstrinsikalitas (dimensi ekstrinsik/sosial-politik-kultural) film Sang Kiai, terutama jika dikontekstualisasi bagaimana narasi sejarah bangsa selama ini disusun dan disosialisasi.

arsip tempo : 171341380846.

. tempo : 171341380846.

Mohammad Afifuddin,
MAHASISWA PASCASARJANA SOSIOLOGI FISIPOL UGM

Seorang kawan yang kebetulan santri tulen merasa tidak puas setelah menonton film Sang Kiai. Katanya, suasana yang digambarkan dalam film itu kurang kental ciri pesantrennya. "Enggak terasa girah pesantrennya," katanya sambil menunjukkan mimik muka kecewa. Pada waktu hampir bersamaan, salah seorang santri lain berkisah di laman Facebook-nya perihal pokok serupa. Agak detail dia merinc

...

Berlangganan untuk lanjutkan membaca.
Kami mengemas berita, dengan cerita.

Manfaat berlangganan Tempo Digital? Lihat Disini

PILIHAN TERBAIK

Rp 54.945/Bulan

Aktif langsung 12 bulan, Rp 659.340

  • *Anda hemat -Rp 102.000
  • *Dijamin update hingga 52 edisi Majalah Tempo

Rp 64.380/Bulan

Aktif setiap bulan, batalkan kapan saja

  • *GRATIS untuk bulan pertama jika menggunakan Kartu Kredit

Lihat Paket Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 17 April 2024

  • 16 April 2024

  • 15 April 2024

  • 14 April 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan