cloudfront
Koran TEMPO
Perjalanan
Sabtu, 15 Oktober 2016

"Pusing-pusing" di Kuching free

Jantung saya berdegup kencang. Pesawat Boeing 737 seri 200 yang saya tumpangi ini mengalami turbulensi terus-menerus sepanjang penerbangan dari Pontianak ke Kuching. Hujan deras mengguyur Pontianak sejak pesawat lepas landas dari Bandara Supadio tadi. Beberapa kali pilot mengingatkan penumpang bahwa pesawat akan mengalami guncangan. Selama 30 menit, kami dicekam ketegangan. Seorang ibu yang duduk di sebelah saya tidak berhenti komat-kamit melafazkan doa. Saya pun hanya bisa terdiam sembari mengencangkan tali pengaman.

Akhirnya kami mendarat selamat di Kuching, ibu kota Negara Bagian Sarawak Malaysia, ini. Hujan gerimis menyambut kami. Tas punggung berukuran 55 liter segera saya ambil dari bagasi di atas tempat duduk, dan segera menuju imigrasi. Hari masih sore, baru pukul 15.00 waktu Sarawak. Di sini penanda waktu lebih cepat satu jam dari waktu Indonesia barat.

Kupon taksi seharga RM 30 ada di dalam genggaman, untuk menebus kendaraan yang akan menghantar ke hostel. Sebelumnya saya sudah memesan taksi lewat online. Hostel Saramo namanya, jaraknya tidak terlalu jauh dari Kuching Waterfront. Tarif kamarnya bersahabat, hanya RM 50 per malam. Fasilitas yang tersedia: tempat tidur, TV, dan Wi-Fi yang lumayan kencang.

Penginapan ini menjadi alternatif rujukan, karena beberapa pegawainya berasal dari Indonesia. Salah satunya adalah Santoso yang menyambut saya dengan hangat. "Selamat datang, Pak. Pemesanan Anda sudah tercatat di sistem kami," kata dia seraya menyerahkan kunci kamar.

Dari Santoso pula saya mendapat banyak informasi menarik tentang Kuching. "Datangnya tepat nih, Mas. Kuching lagi ulang tahun. Coba kunjungi Kuching Food Festival nanti malam," kata dia. "Kalau mau sewa motor, sama saya saja, ya?"

Karena tidak terlalu capek, saya putuskan langsung "pusing-pusing" (bahasa Melayu Malaysia untuk berjalan-jalan) sore hari di pinggir sungai Sarawak. Cukup berjalan kaki lima menit dari penginapan. Di sana sudah terlihat beberapa orang bersantai menikmati hari yang tengah berganti. Gerimis sudah lewat. Dan kini menyisakan pendar cahaya oranye yang sangat cantik di langit. Sepertinya ini pembukaan yang bagus untuk memulai petualangan di Kuching.

Malam hari saya memutuskan mengikuti saran Santoso, menikmati Kuching Food Festival di Jalan Padungan. Saya menelepon seorang teman, Henerita Saran, agar mau menemani berburu makanan di festival kuliner ini.

Gerbang sudah tampak. Kerlap-kerlip lampu terlihat dari jauh. Saya bersusah-payah mencari lokasi parkir sepeda motor. Tak lama ponsel saya bergetar, dari Henerita. "Mane awak ni, I tunggu kat entry," kata dia dengan logat Melayu yang kental. Rupanya dia sudah menunggu di dekat pintu gerbang.

Saya setengah berlari dan segera menyapa saat menemuinya. Hampir tiga bulan kami tidak bertemu, kami pun berpelukan hangat. Dan kami sudah tidak sabar menikmati jajanan yang disajikan ribuan gerobak makanan dan minuman ini. Di depan sejauh mata kami memandang isinya hanya makanan. Hidung menangkap aroma sedap sepanjang jalan. Makanan Asia dan Eropa, makanan tradisional dan modern, makanan peranakan dan percampuran budaya. Semua ada!

Semua menggoda, apalagi harganya pun tak berat di kantong. Sate ayam, misalnya, dihargai 2 ringgit per tiga tusuk. Sementara itu, nasi hainam dan bebek panggang hanya 10 ringgit. Bagi penggila makan, semua ini tentu saja akan menjawab hasrat kuliner mereka.

Saya dan Henerita memilih duduk di bagian tengah jalan yang disulap menjadi ajang santai. "Saye keje di Sarawak Tourism Board sekarang. I Nak ajak you pegi lihat nature esok pagi.You nak pegi?" tiba-tiba ia melontarkan ide menarik. Tentu saja tidak ada alasan untuk menolak. Ia bercerita bahwa Sarawak sedang gencar melakukan pelestarian flora dan fauna. Dua lokasi yang akan dikunjungi besok adalah Semenggoh Wild Park yang menjadi tempat perawatan orang hutan dan Kuching Wetland National Park yang menjadi benteng penjaga Sarawak agar tidak banjir.

Saya memperhatikan sekeliling. Sungguh menakjubkan, ada penjual sebanyak ini tapi tidak ada satu tempat pun yang sepi. Semua dipadati pengunjung. Henerita menjelaskan bahwa penduduk Kuching memang kebanyakan malas memasak di rumah. Selain itu, jadwal makan mereka bisa 5–6 kali dalam sehari. "Pagi kite pegi brekfest kat kedai, snack time ade due kali, before lunch and afternoon tea, dinner dan supper pon kite ade."

Tak mengherankan jika dua dari lima penduduk Kuching mengalami obesitas. "Termasuk saya, ha-ha-ha!" kata Henerita. Pantas saja setiap saya ke Kuching, pada pukul 23.00 pun masih saja orang ramai keluar rumah untuk makan.

Henerita mengingatkan saya untuk datang ke Acara Rainforest World Music Festival, sebuah acara musik tahunan yang sayang untuk dilewatkan. Kebetulan malam ini ada penampilan pre-show artis yang akan tampil festival. Kami segera menuju sebuah taman tak jauh dari area festival jajanan ini. Telinga saya sudah menangkap suara komposisi musik. Sungguh saya merasa tidak asing dengan suara tetabuhan yang diiringi teriakan itu. Pantas saja, rupanya yang tampil Dol Arastra dari Bengkulu. Saya menikmatinya. Ini adalah cara yang tepat untuk melepas malam.

Pagi menyapa. Matahari bersinar terang melewati jendela kamar. Saya terbangun dan mendapat pesan pendek Henerita dari ponsel. Pukul 07.00 saya akan dijemput untuk ikut memberi makan orang utan di Semenggoh. Saya bergegas mempersiapkan diri. Tidak lama menunggu di lobi, mobil jemputan datang dan saya diantar menuju lokasi yang berjarak sekitar 12 kilometer di sebelah utara pusat kota. Di sana sudah menunggu Henerita dan Tom, sang penjaga hutan.

Tom menjelaskan bahwa Semenggoh Wild Park merawat 25 orang utan. "Nanti you mungkin tak bise liat semua," kata dia mewanti-wanti. Lahan hutan seluas 1.613 hektare ini didirikan sejak 1975. Saat pemberian makan, pengunjung berada paling tidak 7–10 meter dari orang utan. Semua pelancong dilarang berisik, apalagi memegang makanan dan minuman. Jangan mencoba memberi makan karena di sini merupakan sekolah bagi mereka sebelum dilepasliarkan. Bagi yang ingin mengambil gambar, dilarang mengaktifkan lampu kilat karena dapat mengganggu dan dapat membuat orang utan marah.

Begitu rantai yang melintang di jembatan terlepas, saya bergabung dengan sekitar 30 pelancong. Kami pun dipersilakan masuk berbaris perlahan-lahan. Masuk ke dalam hutan melewati jalan setapak kurang-lebih 300 meter. Dari jauh terdengar suara "Aoooooooouuuu uuuu uuuu uoo!" dan kadang terdengar memanggil nama. Ternyata itu adalah cara petugas agar orang utan menuju satu titik pemberian makan.

Untuk pelancong disediakan bangku berundak dari kayu dan di beri batas tali tambang. Sementara itu, di depan terdapat panggung yang terhubung dengan tali-temali ke beberapa pohon tinggi. Di tengah panggung terdapat pengasuh dengan dua ember penuh buah-buahan segar seperti pisang, pepaya, dan kelapa. Kami harus menunggu 30 menit sampai tiga ekor orang utan datang. Beberapa pisang segera mereka genggam dan sebagian langsung dimakan. Pengasuh juga memberikan kelapa utuh yang langsung dibawa ke atas pohon untuk dibentur-benturkan ke batang pohon supaya pecah sebelum disantap dagingnya. Tingkah mereka yang lucu membuat kami beberapa kali menahan tawa.

Setelah puas melihat atraksi orang utan makan saya menuju galeri foto di Semenggoh Wild Center. Di dalam ruangan ini terdapat silsilah orang utan yang dirawat, lengkap dengan nama, jenis kelamin, dan informasi sederhana perbedaan antara orang utan di Sumatera dan Kalimantan. Di sebelah galeri terdapat kandang buaya. Sayang, buayanya malu menampakkan diri.

Setelah merasa cukup saya menuju Kuching Wetland. Tempat ini berjarak 20 menit (sekitar 15 kilometer) perjalanan dari tempat saya kini. Untuk menuju ke sana kami menumpang kapal bermesin. Saat berlayar kepala ini tidak berhenti melihat ke kiri dan kanan. Sungai dan daratannya lumayan luas. Menurut teman saya ada sekitar 6.610 hektare lahan yang mencakup Sibu laut dan Sungai Salak. Banyak sungai kecil berair payau yang saling terhubung dan bermuara pada dua sungai besar.

Kuching Wetland berada di tengah muara. Asal tahu saja, 30 persen daratan pasir ini merupakan buatan manusia. Beberapa hewan liar juga ada di lokasi ini, seperti monyet proboscis, monyet macaque berekor panjang, monyet daun perak, kadal monitor, buaya muara, dan beberapa burung. Karena banyaknya pohon bakau, lokasi ini menjadi tempat berkembang biak udang dan ikan.

Sesampai di daratan, saya melihat padang yang didominasi pasir. Kebetulan ada kegiatan penanaman pohon bakau saat saya datang. Kegiatan ini rutin dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap ekologi dan dunia konservasi sehingga keberagaman flora dan fauna tetap terjaga.

Dari padang pasir ini saya juga bisa melihat barisan Gunung Santubong dan Gunung Serapi tanpa penghalang. Saya bersama Henerita bertemu dengan Rosma, penjaga hutan bakau. "Kami bekeje same dengan banyak pihak, tak hanye gavement, tapi juga SHELL, They help us, jaga bakau kat sini," kata Rosma. Kuching Wetland dibangun agar Kota Kuching tidak terlanda banjir.

Kuching adalah kota yang paling sering saya kunjungi setiap liburan. Kota ini tidak terlalu besar namun memiliki banyak tempat untuk bisa dijelajahi, dari wisata belanja, alam, hingga kuliner. Ini membuat Kuching cocok disambangi untuk liburan pendek maupun panjang. Tak mengherankan, kota ini mulai menjadi pilihan berlibur bagi sebagian pelancong dari Indonesia. DONY PRAYUDI




Ransel
- Sarana transportasi menuju Kuching yang terbilang mudah dari Pontianak. Bisa melalui darat ataupun udara. Kota ini pelan-pelan mulai menjadi salah satu lokasi wisata favorit orang Indonesia.
- Tarif sewa sepeda motor sekitar RM 38 per hari setelah nego.
- Tiap tahun digelar Rainforest World Music Festival di kawasan Sarawak Cultural Village
- Saat ada festival tiket masuk adalah RM 110, dan RM 60 saja jika tidak sedang ada festival.
- Ada restoran yang menyajikan makanan lokal Sarawak di dalam Serawak Cultural Village.

TEMPO ID




Forgot your password?

Forgot your username?