cloudfront
Koran TEMPO
Gaya Hidup
Rabu, 18 November 2015

WAJAH ASIA DI PAPAN LUNCUR free

Jason Choi nyaris terjatuh saat bermain skateboard di ramp berbentuk setengah pipa di Potato Head Garage, Kawasan Niaga Terpadu Sudirman, pekan lalu. “Silau garagara lampu yang dipantulkan di situ,” kata Jason kepada Tempo di lokasi. Jae Seung Choi—nama asli Jason—merupakan skateboarder profesional yang disponsori minuman energi Red Bull.

Menurut Jason, di Korea Selatan, mungkin juga di Asia, skateboard masih dianggap sebagai permainan anak-anak. “Waktu datang ke Korea, empat tahun lalu, banyak yang bertanya, ‘Sampai kapan kamu mau main-main begini terus?’” katanya. Lahir di Seoul, 23 tahun lalu, Choi menghabiskan masa kecil dan remajanya di Amerika Serikat, mengikuti orang tuanya.

Di sana, dia menekuni berbagai olahraga. Cabang yang dia geluti serius adalah bola basket. Meski terpilih masuk tim di sekolahnya, Jason tidak mendapat kesempatan bermain yang cukup. Menurut dia, pelatih lebih suka memainkan anakanak kulit putih. Dengan kata lain, dia menjadi korban diskriminasi di lapangan.

“Selalu ada masalah dengan pelatih yang terlalu memberi tekanan dan mendominasi,” ujar Jason. Gara-gara itu, dia mencari jalan lain. Pilihannya jatuh ke skateboard. Papan luncur, dia melanjutkan, tidak membutuhkan pelatih dan strategi permainan. “Anda belajar semuanya sendiri.”

Kebebasan semacam itulah yang tidak Jason rasakan di cabang olahraga lain. “Itu sebabnya saya merasa nyaman dan jatuh cinta kepada skateboard,” katanya. Seperti kebanyakan cerita cinta, ada saja tantangannya. Orang tua memarahi Jason yang kerap pulang dari taman bermain dengan luka-luka. “Ada di pelipis, di tangan, atau kadang penuh goresan di mana-mana,” ujar Jason. Keluar pula kata-kata macammacam, seperti: “Mau jadi apa kamu main skateboard melulu?”

Namun Jason cuek bebek. Dia malah makin getol berseluncur dan menclok di sana-sini. Pada 2007 dan 2008, video Jason ber-skateboard menghiasi YouTube. Saat itu, dia baru dua tahunan beraksi di papan luncur. Aksi yang paling fenomenal adalah melompati 21 anak tangga menurun di Kedutaan Besar Kanada di Washington, DC. Remaja 15 tahun berbaju gombrong itu membutuhkan tujuh kali percobaan untuk mendarat sempurna. Sebelumnya, dia selalu nyusruk dengan berbagai posisi.

Bukan cuma jago nampang, Jason membuktikan diri sebagai kampiun di berbagai kompetisi, baik lokal maupun antarnegara. Bahkan Jason menjadi orang Korea pertama sepanjang sejarah yang masuk kualifikasi kejuaraan dunia Bomb the Line di Berlin pada 2012. Perlahan, keluarga Choi pun menerima jalan hidup Jason, termasuk saat dia kembali ke Seoul empat tahun lalu. Satu tujuannya adalah memandu pemilik bakatbakat skateboard muda di Negeri Ginseng yang mulai bermunculan.

Upaya Jason mulai membuahkan hasil. Kini, di Seoul, mudah didapati kelompok anak-anak muda memainkan berbagai trik dengan papan luncur di banyak taman. Kesan skateboard sebagai permainan anak-anak pun perlahan terkikis. Hanya, anggapan bahwa skateboard merupakan perusak fasilitas umum masih kuat. Sebab, skater sering ngesot di mana-mana, dari bangku taman hingga pegangan di tangga. “Padahal sih, itu bisa dibersihkan dengan mudah,” kata Jason.

Menjelang tengah malam di kawasan Sudirman, Jakarta, Jason masih meluncur mulus dengan papan seluncurnya. Kadang dia melompat tinggi, seperti tidak punya urat takut. Bagi dia, skateboard bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. “Yang perlu Anda lakukan adalah bersenangsenang saat bermain,” ujar penggemar musik hip-hop itu. Menurut dia, skateboard bukan sekadar olahraga. “Ini juga bagian dari ekspresi diri.”

TEMPO ID




Forgot your password?

Forgot your username?