cloudfront
Koran TEMPO
Seni
Rabu, 18 November 2015

Teater Tradisi free

 Teater Tradisi

Tahun ini, usia Kasim Ach mad memasuki kepala delapan. Gigi depan bagian atasnya su dah habis. Rambutnya sem purna memutih dan menipis. Ia lambat dan berhatihati saat bergerak. Namun, tiap Selasa dan Kamis, ia se lalu memenuhi jadwal meng ajarnya diInstitut Ke senian Jakarta. Ia berjalan lalu me nyambung perjalanan de ngan angkutan umum be berapa kali dari rumahnya di daerah Duren Sawit, Ja - karta Timur, ke IKJ di Cikini, Jakarta Pusat. Semua de mi menjaga teater tra disional Indonesia agar terus dibahas di kelas-kelas oleh para mahasiswa.

Kasim mengatakan mengajar adalah satu-satu nya upaya yang dapat dia la - ku kan saat ini untuk me - nye lamatkan teater tradisi. “Saya bukan seniman teater, tapi saya ingin me ngenalkan teater tradisi,” kata ka kek tiga cucu ini saat di temui di rumahnya, Ahad, 15 November lalu.

Kasim menghabiskan se bagian besar hidupnya se ba gai birokrat di Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan dan Ke bu daya an DKI Jakarta. Pada 1958, ia ditawari menjadi pe gawai negeri oleh Achdiat Kartamihardja—pe - nu lis novel Atheis—yang sa at itu menjabat Kepala Ins peksi Kebudayaan Ja - karta Raya. Hingga masa pen siunnya pada 1990, Ka sim menduduki berbagai jabatan dan pangkat di Subdirektorat Teater, Seni, dan Film.

Kasim bukan birokrat yang hanya menduduki ja bat an tanpa memahami ke senian. Sastrawan Re my Silado dalam buku Pendidikan, Birokrasi Seni, dan Pergulatan Teater Timur & Barat yang diterbitkan un tuk memperingati 80 ta hun A. Kasim Ach mad meng ungkapkan, Ka sim dengan sepenuh hati mendedikasikan pe ker jaannya bagi dunia tea ter dari ujung ke ujung Nu santara. “Teater di he la nya ke pentas dengan meng gu nakan uang negara secara pan tas,” kata Remy.

Ketertarikan pria kelahiran Semarang, 5 April 1935, ini kepada film dan seni peran tumbuh sejak SMP. Ka la itu, pria bernama leng kap Agustinus Ka sim Ach mad yang tinggal di Ka li wungu, Jawa Tengah, ini rela menempuh jarak 21 kilometer dengan menum pang truk muatan agar bisa menikmati film Hollywood yang hanya diputar di bios kop di Kota Semarang.

Selepas SMA, Kasim me rantau ke Jakarta ikut pa mannya. Saat itu, Aka demi Teater Nasio nal In do nesia (ATNI), Ja kar ta, sedang mem buka pen daftaran ma hasiswa baru. Akademi ini dipimpin dan dikelola oleh sejumlah tokoh perfilman Indonesia, di antaranya Us mar Ismail dan Asrul Sani.

Kasim tergoda. Ia mendaf tar dan diterima sebagai mahasiswa angkatan pertama ATNI bersama 61 orang lainnya. “Saya ingin be lajar jadi bintang film,” ujarnya sambil tertawa. Sa - yang, saat audisi, Kasim se lalu hanya kebagian pe - ran figuran.

Kehadiran ATNI membuat pentas teater Tanah Air semarak. Kiblat pen tas teater Indonesia saat itu masih condong ke Barat. Kar ya-karya yang di tampilkan adalah ter je mah an lakon-lakon Eropa.

Kasim tak ingin la rut dalam euforia pertun juk an teater modern mo del bangsawan itu. Ia ber ang gapan, teater Ti mur—yang berakar dari tra disi lokal daerah— punya keunggulan khas di - banding teater Barat yang diagung-agungkan. “Teater tradisi menggunakan ber - ba gai me dia ekspresi terintegrasi, yakni drama, tari, dan musik yang menjadi satu kesatuan dalam per tunjukan,” ujar dia.

Keunggulan itu sayang bila disia-siakan. Begitu di - serahi tanggung jawab di Direktorat Kesenian, Kasim pun melongok teater-teater yang berakar dari kebudayaan lokal. Ia berkeliling ke berbagai dae rah dan me nemukan bah wa hampir tiap daerah memiliki budaya seni peran berupa teater tutur.

Kasim bertekad meng hidupkan tradisi itu. Ia meran cang agar tiap daerah membuat pertunjukan teater tutur masing-ma sing. Ia mengundang seniman lo kal untuk berdiskusi se lepas pertunjukan. Ia menginstruksikan pejabat daerah agar mengambil orang teater sebagai mitra kerja.

Kasim juga membawa per tunjukan teater daerah ke Jakarta. Ia mengongkosi kelompok-kelompok teater daerah untuk tampil di Taman Ismail Marzuki. Kondisi teater tradisi yang megap-megap kare na ke - ha diran televisi di buat kem bali bergairah oleh Ka sim. Randai dari Su matera Barat, mamanda dari Kalimantan Selatan, mak yong dari Melayu, dan ke - top rak dari Jawa adalah be - berapa teater tradisi yang ia coba hidupkan.

Agus Nur Amal—lebih di kenal sebagai Agus PM Toh—mengingatbetapaber - semangatnya Kasim menghidupkan seni tradisional randai dari Sumatera Barat. Agus adalah mahasiswa Ka sim di IKJ. Berkat ilmu dan dorongan dari Kasim, Agus memilih menekuni per tunjukan yang didasari hikayat Aceh yang ia ga - bung kan dengan teknik vo - kal tradisi Minang.

Agus juga belajar tentang pendokumentasian seni da - ri dosennya itu. Memang, se lain mencurahkan per hatian kepada teater tra di si, Kasim tekun men do kumentasikan tiap per tun jukan. Sebanyak 15 film tentang teater tradisi telah ia buat. Ia pun menciptakan be berapa buku, antara lain Pertunjukan Rakyat (1983), Ungkapan Beberapa Bentuk Kesenian (1984), Pendidikan Teater untuk Pe tun juk Guru SMA (1990), dan Mengenal Teater Tra disional di Indonesia (2006).

Begitu Kasim pensiun, per juangan itu pun tersendat. Pejabat baru kurang mem beri perhatian kepada perkembangan teater tra - disi. Kerja yang telah dilakukan Kasim hampir tak ber bekas. “Film-film saya dulu tak bisa lagi diputar karena bahan materi filmnya sudah rusak,” kata Ka - sim. “Buku pun tak lagi di - ter bitkan.”

Namun Kasim te rus me - langkah dan memper ke nalkan teater tradisi dengan meng ajar di IKJ. Ia menugasi mahasiswanya merancang pertunjukan teater rak yat untuk kemudian disak sikan bersama-sama. Upa ya ini bukannya tanpa pertentangan. Banyak rekan se ja - watnya di IKJ yang meng - anggap teater tradisi ha nya perlu dikenalkan se ca ra teori. Prakteknya cu kup de - ngan lakon teater mo dern.

Kasim tak peduli. Di bantu asistennya, ia terus menga jarkan teori dan praktek tea ter tradisi. “Saya tidak mau nanti kita malah be - la jar randai dari Hawaii,” ucap dia.

TEMPO ID




Forgot your password?

Forgot your username?