cloudfront
Koran TEMPO
Kuliner
Minggu, 04 Januari 2015

Bersantap ala Bangsawan Jepang free

 Bersantap ala Bangsawan Jepang

Orang Jepang dikenal gemar makan. Itu sebabnya, jika kita berkunjung ke Tokyo, di setiap sudut jalan mudah sekali ditemui restoran. Konsep restoran dan menu yang ditawarkan pun sangat beragam.

Dari makanan tradisional cepat saji atau sajian made by order. Dari restoran yang dipenuhi antrean mengular hingga restoran yang memerlukan pemesanan tempat di awal alias booking.

Dari restoran waralaba gyudon (beef bowl), macam Yoshinoya di pinggir jalan, hingga restoran berkelas yang menyajikan gaya makan Kaiseki.

Kami, sekelompok jurnalis dari Asia Tenggara yang berkunjung ke Tokyo, Jepang, merasa penasaran ingin mencicipi seperti apa gaya makan Kaiseki. Beruntung, tak butuh waktu lama, gayung bersambut.

Di satu malam, pertengahan November lalu, kami diajak menikmati makan malam di Restoran Kitaohji Akasaka Saryo, yang berlokasi di pusat kota Chiyoda-ku, Tokyo.

Menurut Hiroko Kaizuka, Deputi Direktur Senior divisi Media Internasional Kementerian Luar Negeri Jepang-sebagai pengundang-Kaiseki adalah cara tradisional bersantap kaum bangsawan zaman dulu.

Sejarah menyebutkan masakan Kaiseki dikenal sejak zaman Kamamura (1185-1333) saat berkuasa di Jepang. Pada mulanya, ukuran porsinya kecil dan diperuntukkan bagi para biksu yang menjalani latihan. Dalam perkembangannya, masakan ini menjadi makanan untuk resepsi atau jamuan makan resmi.

Memasuki Zaman Muromachi (1336-1573), berkembanglah gaya sajian Honzen (Honzen no seishiki) dan gaya Kaiseki (Cha-Kaesaki). Keduanya kini menjadi gaya aliran utama makanan Jepang sekarang ini.

Dalam gaya Honzen, makanan dalam porsi satu orang dihidangkan secara individu di atas meja pendek yang disebut sebagai onzen. Sedangkan Kaiseki dihidangkan dalam porsi kecil seperti dalam acara minum teh.

Seiring dengan berjalannya waktu, makna gaya menyajikan makanan Kaiseki bergeser. "Saat ini yang ditonjolkan dalam hidangan Kaiseki adalah seninya, meliputi keseimbangan rasa, tekstur, penampilan, dan warna," kata Hiroko.

Dalam kesempatan itu, Hiroko mengajak kami menikmati sajian makan Kaiseki. Kami duduk mengelilingi meja makan berbentuk kotak dengan bantal tipis sebagai alas duduk yang disebut sebagai tatami.

Setelah semua duduk dengan rapi, dengan tenang Hiroko berujar, "Dalam gaya makan Kaiseki ini, silakan menikmati 13 jenis makanan yang akan tersaji di depan Anda." Kami pun melongo.

Bagaimana mungkin kami bisa menghabiskan 13 jenis makanan yang tersaji? Padahal, bagi masyarakat Jepang, tidak baik jika tidak menghabiskan makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah.

Benar saja. Tak lama kemudian, datanglah makanan pembuka yang terdiri atas enam+ jenis makanan, yakni rebusan daun lobak, irisan ikan todak yang dipanggang dengan saus bawang, sushi sirip ikan, tiram rebus sake, sup kepiting, serta sup miso telur dari Kyoto.

Sebelum menyantap, Hiroko mengajak kami melakukan ritual sebelum makan, yakni itadakimasu. Kedua tangan ditangkupkan di depan dada, seperti sikap menyembah. "Ini penghormatan kita untuk makanan yang akan kita santap," katanya.

Tak lama kemudia, kami juga diajak bersulang (kanpai) dengan minuman yang kami pesan. Biasanya orang Jepang memilih sake atau ocha (teh hijau). "Kanpai," teriak kami semua di ruangan itu merayakan kegembiraan.

Kami melahap makanan dengan antusias. Sebab, seperti kata Hiroko, tampilan makanan tersebut amat menarik untuk dipandang. Betul-betul menggoda dan mengundang selera.

Dalam sekejap, makanan-makanan tadi langsung ludes dan tinggal menyisakan mangkuk atau piring keramik kosong. Maklum, porsinya memang kecil sehingga perut tak terasa penuh.

Pramusaji berbaju kimono segera mengambil nampan yang telah kosong dan membawanya pergi ke luar ruangan. Tak berapa lama, dia kembali datang membawa bagian per bagian dari hidangan utama.

Yang pertama, makanan berbahan segar atau sashimi (tuna, pink shrimp, Japanese sea bass). Dilanjutkan dengan makanan yang dipanggang atau grilled dish (local chicken grilled with miso), dan makanan yang digoreng atau fried dish (shrimp tempura).

Selanjutnya hadir makanan di dalam mangkuk kecil (pot dish), yakni lobak dan ikan amberjack (Japanese radish and Japanese amberjack) serta hati ikan sungut ganda dengan saus ponzu (ankimo ponzu). Sajian utama terakhir adalah nasi yang dimasak bersama salmon dan kacang mete.

Ketika memandang nasi yang datang, kami semua langsung lemas. Perut sudah terasa penuh. "Kenapa justru makanan paling berat hadir belakangan?" demikian pikir kami. Benar, ternyata tak semua orang habis menyantapnya.

Setelah perut terasa kenyang dan badan enggan bergerak, datang es krim rasa teh hijau yang segar sebagai makanan penutup. Maklum, di Jepang, teh hijau tak hanya disajikan sebagai minuman. Rasanya sungguh ringan dan segar.

Sembari menikmati es krim, kami menghitung berapa lama menghabiskan waktu untuk menikmati makanan Kaiseki sambil berbincang akrab. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 21.30, yang artinya sudah 5 jam kami berada di restoran ini.

Bersantap ala Kaiseki memang butuh waktu tak sebentar. Karena itu, restoran di Jepang yang menyajikan gaya bersantap ini biasanya tak menerima pengunjung tanpa pemesanan. Alasannya, ruang sudah habis dipesan. Malah, terkadang, pemesanan harus dilakukan beberapa hari sebelumnya.

Tak terasa es krim pun tandas. Datanglah saat perpisahan. Menurut Hiroko, karena orang Jepang makan di ruang tertutup, biasanya mereka meneriakkan yel-yel untuk menunjukkan saat berpisah.

"Kalau kita mendengar sebuah ruangan meneriakkan yel-yel perpisahan, artinya sebentar lagi mereka akan ke luar ruangan," ujar Hiroko sambil tersenyum. Kami pun melakukannya. Sayonara. DA CANDRANINGRUM




Ikan, Teh Hijau, dan Yoga

Meski banyak makan, orang Jepang rata-rata tetap terlihat langsing. Di satu restoran sushi, mereka bisa makan berpuluh-puluh piring, tapi tetap tidak gemuk. Apa rahasianya? Ikan, teh hijau, dan yoga.

Ya, makanan utama masyarakat Jepang adalah hasil laut. Menurut penelitian, makanan hasil laut minim zat berbahaya bagi tubuh dibanding makanan yang ada di daratan.

Masyarakat Jepang suka menyantap hasil laut mentah (sashimi) tanpa campuran zat atau bumbu apa pun. Sushi adalah contohnya.

Sushi merupakan sumber asam lemak Omega-3 yang baik, penting bagi kesehatan otak dan jantung. Selain itu, menurut Craig Wilcox dari Okinawa Research Center for Longevity Science, sushi merupakan sumber protein yang baik dan minim lemak jenuh.

Selain makanan dari laut, teh hijau (ocha) sangat diminati orang Jepang. Tak hanya dijadikan minuman pendamping, teh hijau juga jamak dinikmati dalam sajian makanan besar ataupun makanan ringan. Bahkan dicampur dengan cokelat.

Satu alasan lagi mengapa orang Jepang tidak gemuk meski banyak makan adalah karena mereka gemar berolahraga. Di taman, mudah ditemukan orang Jepang, baik tua maupun muda, yang menjaga kebugaran dengan cara berlari atau joging.

Selain berlari, mudah ditemui sekelompok orang tengah berlatih yoga. Cara-cara tersebut diyakini dapat membakar lemak dalam tubuh.

TEMPO ID




Forgot your password?

Forgot your username?