cloudfront
Koran TEMPO
Pentas
Minggu, 04 Januari 2015

Ketika Kelompok Teater Turun Gunung free

 Ketika Kelompok Teater Turun Gunung

Suasana Hutan Kota Sangga Buana yang lebih ramai daripada biasanya pada 31 Desember malam lalu menarik perhatian Daffa dan Diky. Bukan hura-hura akhir tahun, kedua bocah murid sekolah dasar ini tertarik menonton pertunjukan teater yang digelar di hutan kota yang terletak di kawasan Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, itu.

Duduk di atas terpal, keduanya menonton penampilan Kelompok Teater Lab Ciputat tentang kehidupan masyarakat tepi kali. Kadang, mereka asyik bercanda dan tak menghiraukan pertunjukan di depannya. Tak jarang pula mereka ikut membeo dialog para pemain yang mencuri perhatian mereka. "Sofa butut dibuang ke kali, kasur butut dibuang ke kali," teriak mereka berulang kali, sambil tertawa terbahak-bahak.

Pertunjukan ini merupakan satu dari rangkaian kegiatan "Kota yang Tenggelam" dari Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Di Sangga Buana, selain pentas teater, digelar pantun anak-anak, penebaran bibit ikan di Kali Pesanggrahan, diskusi, dan layar tancap. Selain di Sangga Buana, acara ini digelar di Kapuk Teko, Cengkareng, Jakarta Barat, sehari sebelumnya. Di lokasi langganan banjir ini, acara diselenggarakan layaknya pentas tujuh belasan. Anak-anak tampil menari, menyanyi, juga bermain teater di atas panggung yang didirikan di halaman kantor RW.

"'Kota yang Tenggelam' sebenarnya adalah sebuah riset untuk kelompok teater," ujar Dewi Noviami, Ketua Komite Teater DKJ, ketika ditemui di Kapuk Teko, Selasa, 30 Desember lalu. Ia menambahkan, acara ini bertujuan untuk membawa kelompok teater 'turun gunung', terjun langsung dan melakukan riset di masyarakat. "Acara akhir tahun ini semacam presentasi atas apa yang telah mereka kerjakan selama ini. Teater Kubur, misalnya, konsepnya melakukan pendampingan pada masyarakat," ujarnya.

Novi menyebutkan, "Kota yang Tenggelam" digagas sejak 2013. Kegiatan ini diawali dengan diskusi dengan pakar tata kota untuk memetakan masalah yang tengah dihadapi Jakarta. Dari diskusi tersebut, ditemukan bahwa problem besar yang dihadapi Jakarta adalah masalah air. Dari banjir yang rutin hingga permukaan tanah yang terus menurun akibat penyedotan air tanah secara masif.

Dua kelompok teater yang diundang, yakni Teater Kubur dan Lab Teater, kemudian diterjunkan ke lapangan untuk mencari lokasi yang dipandang representatif terhadap masalah ini. Bambang Prihadi, pimpinan Lab Teater Ciputat, misalnya, memilih kawasan Kali Pesanggrahan. Selain memiliki faktor kedekatan dengan mereka, di lokasi ini kerap meluap.

Bambang menyebutkan, ketika turun ke masyarakat, ia langsung menemukan tantangan. "Ketika kita masuk dengan pendekatan formal yang struktural, lewat Pak RT atau datang dengan program, misalnya, masyarakat enggak mau," ujarnya. Akhirnya ia mengambil jalan yang sedikit memutar. Setiap minggu, kelompoknya datang ke lokasi, dan melatih anak-anak seni musik atau teater. "Tentu kami susupi dengan hal-hal yang dekat dengan mereka, dalam hal ini tentang sungai," ujarnya.

Selama itu pula, mereka melakukan penyelaman terhadap kehidupan masyarakat sekitar sungai. Ia menemukan bahwa masyarakat tidak lagi berpikir bahwa sungai adalah bagian dari kehidupan. Sekadar sebagai tempat pembuangan atau bahkan dipandang seperti 'hantu' yang setiap waktu bisa datang dengan ancaman banjir.

Bukan hanya persoalan yang menggelisahkan, tapi Lab Teater Ciputat juga melihat adanya harapan lewat Haji Chaerudin atau Bang Idin. Ia adalah penggagas Hutan Kota Sangga Buana, dari yang semula sebagai tempat pembuangan sampah menjadi sebuah kawasan hijau seluas 120 hektare.

"Ini kemudian menjadi studi kami, menyelami bahwa ada Bang Idin yang memperjuangkan daerah ini hingga menjadi ekosistem yang bermanfaat. Kita inginnya jadi semacam humas yang mentransmisikan pandangan Bang Idin pada masyarakat," Bambang menambahkan.

Novi menyebutkan, hasil riset panjang dari Teater Kubur dan Lab Teater Ciputat ini rencananya dipentaskan pada tahun ini. "Yang kami pentaskan di Sangga Buana adalah embrio pertunjukan kami pada tahun 2015," Bambang menambahkan.

Bambang menyebutkan, yang ia dapatkan dari proses yang panjang dan langsung turun ke masyarakat ini adalah penguatan persoalan, yang jauh lebih dalam bila dibandingkan hanya dengan membaca buku atau mencari di Google.

"Kami juga tidak begitu saja terburu-buru pada pencapaian artistik, supaya kelihatan oke. Di sini pemahaman kami pada kerja bersama masyarakat dulu, pencapaian artistiknya nanti berjalannya seiringan," ujarnya. Ia menyebutkan, justru dengan hal ini ia yakin bahwa bentuk artistik nantinya akan menjadi semakin kuat. "Karena ketimbang ngarang-ngarang, ini benar-benar mewakili problem yang ada di masyarakat," ujarnya. RATNANING ASIH

TEMPO ID




Forgot your password?

Forgot your username?