cloudfront
Koran TEMPO
Musik
Minggu, 08 Desember 2013

Selingan Zoo free

 Selingan Zoo

Album: Zoo Akustik
Musikus: Zoo
Rilis: Oktober 2013
Label: Kebun Binatang Records
Daftar Lagu:Plaba Umak, Merdeka, Misantrophe, Suplemen 4, Terbanglah Burung Belibis, Ke Medan Perang, dan Kelana.

Catatan:
Semua lagu merupakan aransemen ulang dari lagu-lagu dalam album Zoo sebelumnya.


Kali ini, Zoo tampil beda. Band asal Yogyakarta ini membuat album dengan kemasan amat sederhana: sampul karton dan alas cakram berbahan plastik. Tak ada lirik. Tak ada ucapan terima kasih. Hanya keterangan berisi nama para pembuat musik, Rully Shabara (vokal), Bhakti Prasetyo (gitar, mandolin), Dimas Budi Satya (drum dan perkusi), dan Ramberto Agazalie (drum). Cakramnya berisi tujuh lagu, dengan total durasi 16 menit. Dibanding kemasan dua album sebelumnya, Trilogi Peradaban (2009) dan Prasasti (2010), Akustik Zoo jelas kalah megah.

Kemasan Trilogi Peradaban berbahan kayu, dilengkapi buku kecil setebal 20 halaman. Isinya, tiga cakram yang dibagi berdasarkan urutan mundur perkembangan peradaban: Neolitikum, Mesolitikum, dan Paleolitikum. Kemasan Prasasti lebih heboh lagi. Dibikin dari batu granit seberat 1,7 kilogram. Di dalamnya, ada pelajaran zugrafi, aksara yang dibuat khusus oleh vokalis Zoo, Rully Shabara Herman, untuk menulis lirik 11 lagu dalam album tersebut.

Kedua album itu terkait dalam satu benang merah: peradaban modern. Trilogi Peradaban bertutur tentang pembabakan zaman. Adapun Prasasti tentang "bahasa", yang menurut Zoo merupakan muasal sebuah peradaban.

Ya, bisa dibilang Zoo merupakan band indie era 2000-an yang paling "brengsek" dalam hal menggali konsep. Mereka begitu total dalam menggarap konsep. Ide yang hendak disampaikan terasa dalam setiap aspek album, dari lagu, lirik, hingga kemasannya. Mereka bahkan membuat huruf sendiri sekadar untuk menulis lirik lagu-lagunya.

Namun, pada Oktober 2013, tiba-tiba muncul album akustik dengan kemasan super standar. Rupanya Zoo, yang terbentuk pada 2005, sedang cari duit buat bikin album ketiga. Album akustik tak masuk hitungan dalam perjalanan mereka menggarap konsep peradaban. "Ini selingan saja. Butuh modal untuk album berikutnya," ujar Rully.

Terdapat tujuh lagu dalam album Akustik: Plaba Umak, Merdeka, Misantrophe, Suplemen 4, Terbanglah Burung Belibis, ke Medan Perang, dan Kelana. Semua tembang itu merupakan aransemen ulang dari lagu-lagu dalam album mereka sebelumnya.

Zoo sengaja mencari lagu-lagu yang keras dan urakan untuk diaransemen ulang. Lagu yang sulit dibikin versi akustik dirasa lebih menantang oleh Rully cs. "Kami cari yang tak pernah dibayangkan oleh orang akan jadi versi akustik," katanya.

Coba simak lagu Misantrophe yang ingar-bingar. Pada versi asli, Misantrophe diawali tabuhan drum Dimas Budi Satya dan permainan bas listrik Bhakti Prasetyo yang ditebas tak beraturan. Suaranya seperti helikopter jatuh dari ketinggian 20 meter di depan Anda. Belum lagi teriakan "primitif" ciri khas Rully, seperti korban yang menjerit kesakitan ditebas baling-baling heli.

Aransemen akustik dibuat sangat berbeda. Bas diganti genjrengan gitar. Ketimbang menjerit, Rully lebih banyak bersenandung dan bermain vibra suara. Lebih mirip orang rimba yang sedang merapal doa memuja tetuanya.

Dalam album akustik, Bhakti menunjukkan bahwa dia bisa meninggalkan bas dan pedal efek, tapi tetap mengiringi Zoo. Pada lagu Plaba Umak, Terbanglah Burung Belibis, dan Kelana, bahkan Bhakti menunjukkan bakatnya membuat melodi riang yang selama ini terpendam.

Eksperimen paling gila ada pada lagu Ke Medan Perang. Suara Rully, yang lebih mirip suara babi hutan ketimbang suara manusia, mungkin akan sulit dimengerti pendengar awam. Perkusi di sana juga lebih mirip suara di bengkel pedang daripada gebukan drum yang patuh pada ketukan. "Inilah Zoo. Tanpa alat elektronik suara kami jadi sangat tribal," ujar dia.

Dalam proses rekaman akustik, Zoo juga menggunakan metode "primitif". Mereka bermain di studio dan langsung merekamnya dengan recorder bermerek Zoom. "Tak pakai mixer dan tidak ada line tracking," kata Rully. "Tidak ada todong-todong microphone."

Sebagian lagu, seperti Terbanglah Burung Belibis, Kelana, dan Merdeka, sudah siap dengan versi akustik. Aransemen sudah jadi sebelum mereka masuk studio. Sebagian lainnya dibuat dengan improvisasi total, seperti lagu Ke Medan Perang dan Suplemen 4. Proses rekaman dan produksi albu, ini berlangsung sepanjang Oktober 2013. "Rekaman mungkin hanya dua hari," tutur Rully.

Mendengarkan musik Zoo memang tak bisa sepotong-sepotong. Apalagi, musik mereka bukan musik yang mudah dicerna. Menilai Zoo pun tak akan sahih jika hanya mendengar album akustiknya. Kelompok musik yang mengutamakan konsep justru menantang pendengar untuk meneliti mereka dari awal pembentukan hingga kini. Bagi yang tertarik dengan tema yang mereka usung, album Zoo Akustik ini cocok sebagai selingan sembari menunggu album ketiga mereka muncul. ANANDA BADUDU

TEMPO ID




Forgot your password?

Forgot your username?