Metro

Guru DKI Gagap Pembelajaran Jarak Jauh

Edisi, 17 Juni 2020

Guru akan mendapat pelatihan agar lebih inovatif dan kreatif dalam memberikan materi pelajaran secara jarak jauh.

Siswa Sekolah Menengah Pertama mengerjakan tugas yang diberikan guru dari rumahnya di Jakarta Selatan, 16 Juni 2020. TEMPO/M Taufan Rengganis

 

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan bahwa Ibu Kota belum sepenuhnya aman dari ancaman virus corona. Pemerintah saat ini masih berusaha untuk menekan penyebaran wabah. “Karena itu, kami belum berencana membuka sekolah di Jakarta untuk kegiatan belajar-mengajar," kata Anies melalui rekaman suara, kemarin.

Anies mengatakan seluruh siswa di Jakarta akan melanjutkan belajar dari rumah. Ia belum bisa memutuskan sampai kapan pola belajar ini dilakukan. "Nanti setelah Juli, kita lihat situasinya seperti apa," katanya. Kebijakan menunda kegiatan belajar di sekolah ini, kata Anies, semata-mata untuk kebaikan bersama. “Kami selalu mengatakan bahwa lebih baik aman, lebih baik berhati-hati daripada menyesal di kemudian hari."

Sehari sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan, untuk sekolah yang berada di zona hijau, dapat memulai kegiatan belajar pada Juli mendatang. Namun rekomendasi itu tidak berlaku untuk sekolah dasar (SD). "SD belum boleh melakukan pembelajaran tatap muka," ujar Nadiem.

Aturan tentang kegiatan belajar di sekolah itu tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri. Aturan ini menjadi panduan pelaksanaan pendidikan pada masa pandemi Covid-19 bagi satuan pendidikan formal dari pendidikan tinggi sampai pendidikan usia dini dan pendidikan nonformal.  

Menurut Nadiem, kegiatan belajar pada tahun ajaran baru 2020/2021 hanya diizinkan di zona hijau. Keputusan dalam menyelenggarakan kegiatan belajar di sekolah itu menjadi kewenangan pemerintah daerah masing-masing. Nadiem menambahkan, saat ini peserta didik yang berada di zona hijau jumlahnya hanya 6 persen dari total peserta didik.

Keputusan yang diambil oleh pemerintah DKI Jakarta dinilai sejalan dengan SKB empat menteri. Sebagian besar orang tua murid di Jakarta juga mendukung keputusan itu. Hanya, orang tua khawatir pemerintah belum siap menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh. Jika pola ini dilanjutkan, orang tua khawatir justru akan merugikan siswa karena tidak dapat menyerap pelajaran dengan baik. "Anak-anak hanya diberi tugas, kalau bingung, ya sudah diam saja," kata Satrio Diponegoro, 42 tahun, orang tua siswa.

Satrio mencontohkan, putranya pernah kesulitan memahami pelajaran yang diberikan guru lewat aplikasi percakapan WhatsApp. Namun guru tidak bisa memberikan penjelasan secara baik karena adanya keterbatasan. Guru akhirnya memberikan link YouTube untuk membantu putranya. “Tapi tetap (saja) anak saya tidak paham apa yang dipelajarinya,” kata ayah dua anak yang tinggal di Palmerah, Jakarta Barat, ini. 


Satrio berharap pemerintah memiliki solusi untuk masalah seperti itu. Paling tidak pemerintah bisa memberikan panduan pola belajar jarak jauh agar siswa dapat menyerap ilmu yang diajarkan guru.  

Yulia, guru salah satu SMP di Jakarta, mengatakan kebingungan terhadap sistem belajar jarak jauh ini juga dirasakan oleh para guru. Sebab, tidak semua guru memiliki bekal cukup untuk menyampaikan materi pelajaran secara daring. Tidak sedikit pula guru yang gagap teknologi. "Karena itu banyak (guru) yang sekadar memberi tugas dan penjelasan singkat," katanya.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi menilai panduan pelaksanaan pendidikan yang diberikan pemerintah pada masa pandemi Covid-19 belum menjawab masalah yang muncul dalam sistem belajar jarak jauh. “Yang dibutuhkan itu penyederhanaan kurikulum agar praktis dan aplikatif," kata Unifah.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengatakan telah mengevaluasi sistem belajar jarak jauh yang sudah dijalankan pada masa pembatasan sosial berskala besar. Dari evaluasi itu, pemerintah memutuskan akan menyiapkan pelatihan bagi guru. Tujuan pelatihan ini agar guru lebih inovatif dan kreatif dalam memberikan materi pelajaran secara jarak jauh. "Kami bersama sekolah dan semua guru sedang menyiapkan roadmap-nya," kata Nahdiana.

 

IMAM HAMDI | DEWI NURITA | INGE KLARA SAFITRI

 


Guru DKI Gagap Pembelajaran Jarak Jauh

 

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan bahwa Ibu Kota belum sepenuhnya aman dari ancaman virus corona. Pemerintah saat ini masih berusaha untuk menekan penyebaran wabah. “Karena itu, kami belum berencana membuka sekolah di Jakarta untuk kegiatan belajar-mengajar," kata Anies melalui rekaman suara, kemarin.

Anies mengatakan seluruh siswa di Jakarta akan melanjutkan belajar dari rumah. Ia belum bisa memutuskan

...

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami:

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB