Ilmu dan Teknologi

Misteri Materi dan Energi Gelap

Edisi, 26 April 2014

"Setidaknya sekitar 95 persen alam semesta berupa materi gelap dan energi gelap."

Misteri Materi dan Energi Gelap

Wujudnya misterius, tapi diyakini sebagai penyusun utama alam semesta. Itulah materi gelap dan energi gelap. Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami apa dan bagaimana dua hal "serbagelap" itu bekerja. Yang pasti, materi penyusun jagat raya yang sudah dikenal saat ini baru secuil. Lalu, bagaimana para ilmuwan membuktikan keberadaan materi dan energi gelap?

Astronom Amerika Serikat, Edwin Hubble, pada 1929 mempelajari ledakan bintang yang dikenal sebagai supernova untuk menjawab apakah alam semesta mengembang. Sejak itu, para ilmuwan telah berusaha menghitung seberapa cepat jagat raya memuai. Mereka sepakat bahwa gravitasi, gaya yang menarik segala sesuatu bersama-sama, akan mengerem pengembangan kosmos. Tapi seberapa besar laju pengereman itu juga masih misterius.

Pada dasawarsa 1990-an, dua tim astrofisikawan independen memalingkan mata mereka ke supernova yang jauh untuk menghitung laju pengereman itu. Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka menemukan bahwa pemuaian alam semesta tidak melambat, tapi justru semakin cepat. "Pasti ada sesuatu yang menangkal gravitasi, yang oleh para ilmuwan dijuluki 'energi gelap'," begitu tulis laman Space, kemarin.

Dari perhitungan energi yang dibutuhkan untuk menangkal gaya tarik gravitasi, para ilmuwan menemukan bahwa energi gelap membentuk 68 persen dari alam semesta. Materi gelap membentuk 27 persen lainnya. Materi "normal" yang dikenal saat ini hanya memberi sumbangsih kurang dari 5 persen dari kosmos di sekitar kita. Di antaranya, hidrogen, helium, neutrino, bintang, dan unsur-unsur lainnya.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga memperoleh temuan serupa. Dalam laman resminya, NASA menuliskan hasil pengamatan supernova dari teleskop antariksa Hubble pada 1998 menunjukkan bahwa alam semesta di masa lalu berkembang lebih lambat dari saat ini. Artinya, "Gravitasi tidak terbukti memperlambat pemuaian jagat raya," begitu tulis NASA.

NASA menyatakan alam semesta penuh berisi materi. Gaya tarik gravitasi menarik dan menyatukan semua materi itu. Namun, bagaimana energi gelap mempengaruhi pemuaian alam semesta, berikut seluruh materi di dalamnya, masih menyisakan banyak pertanyaan. Pengamatan terbaru menunjukkan bahwa energi gelap telah berperan sejak awal sejarah jagat raya. Keberadaannya membantu para ilmuwan memahami materi yang tak terlihat alias materi gelap.

Albert Einstein adalah orang pertama yang memahami bahwa ruang angkasa tidak kosong. Di dalamnya dipenuhi medan energi. Tapi ilmuwan jenius ini termasuk yang tidak percaya jagat raya mengembang. Dalam teori relativitas umum temuannya, Einstein memasukkan konstanta kosmologi untuk menjelaskan dugaan alam semesta bersifat tetap. "Setelah Hubble mengumumkan alam semesta yang mengembang, Einstein menyebut konstanta itu sebagai kesalahan terbesarnya," demikian tulis Space.

Namun kesalahan Einstein itu menjadi semacam petunjuk keberadaan energi gelap. Memprediksi bahwa ruang kosong dapat memiliki energi sendiri, konstanta temuan Einstein menunjukkan bahwa semakin semesta mengembang, lebih banyak energi akan ditambahkan dan mendorong meluasnya kosmos.

Materi gelap juga tak kalah penting. Materi gelap menyumbang lebih dari 80 persen seluruh materi yang ada di jagat raya. Namun, seperti energi gelap, materi gelap terus membingungkan para ilmuwan. Jika energi gelap adalah kekuatan yang bertanggung jawab atas alam semesta yang mengembang, materi gelap menjelaskan bagaimana kelompok benda berfungsi bersama-sama.

Para ilmuwan memiliki beberapa kandidat untuk materi gelap, dari obyek yang sangat redup sampai partikel aneh. "Apa pun sumber materi gelap dan energi gelap, jelas bahwa alam semesta dipengaruhi oleh hal-hal yang belum diketahui sepenuhnya oleh para ilmuwan," demikian tulis NASA. MAHARDIKA SATRIA HADI | MCT | MAHARDIKA SATRIA HADI

Wujudnya misterius, tapi diyakini sebagai penyusun utama alam semesta. Itulah materi gelap dan energi gelap. Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami apa dan bagaimana dua hal "serbagelap" itu bekerja. Yang pasti, materi penyusun jagat raya yang sudah dikenal saat ini baru secuil. Lalu, bagaimana para ilmuwan membuktikan keberadaan materi dan energi gelap?

Astronom Amerika Serikat, Edwin Hubble, pada 1929 mempelajari ledakan bintang yang dikenal seb

...

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami:

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB