Ekonomi dan Bisnis

Investasi Saham dan Obligasi Kian Diminati

Edisi, 10 Februari 2021

Bank berupaya menghimpun dana kelolaan melalui layanan wealth management.

Layar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan di Jakarta, 5 Februari 2021 Tempo/Tony Hartawan

JAKARTA -- Minat masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat di tengah pandemi Covid-19. Chief Economist and Investment Strategies Manulife Asset Management, Katarina Setiawan, mengatakan saham dan obligasi menjadi pilihan investasi masyarakat karena menjanjikan keuntungan besar. Hal itu ditopang oleh tren positif indeks harga saham gabungan (IHSG), kebijakan moneter yang longgar, serta penguatan nilai tukar rupiah.

“Mitigasi pandemi di satu sisi sudah lebih baik. Vaksinasi massal juga sudah dimulai. Hal-hal ini akan memberikan keyakinan kepada investor untuk kembali menginvestasikan dana pada aset yang berisiko, seperti saham,” ujar dia, kemarin.

Katarina yakin tren pemulihan investasi di pasar modal masih berlanjut setelah IHSG terkoreksi 5 persen pada 2020. Menurut dia, perbaikan kinerja keuangan emiten Bursa Efek Indonesia, yang ditandai dengan pertumbuhan laba, bakal menopang kenaikan harga saham.

Katarina memperkirakan IHSG pada akhir 2021 berada di level 6.740-7.040. “Sedangkan untuk obligasi, outlook pertumbuhan ekonomi yang perlahan mulai meningkat akan membuat imbal hasil alias yield yang lebih stabil,” kata dia.

Investasi obligasi sepanjang 2020 mencatatkan kinerja yang baik dibanding instrumen investasi lainnya. Obligasi pemerintah mencatatkan kenaikan tingkat pengembalian atau return 14,77 persen, obligasi korporasi 11,09 persen, dan reksadana pendapatan tetap 10,35 persen.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan pasar modal ditopang oleh investor retail. Hingga 15 Januari lalu, jumlah investor di pasar modal meningkat 56 persen menjadi 4 juta investor. “Frekuensi transaksi juga naik,” ucapnya. Wimboh memperkirakan jumlah investor akan terus naik.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Wimboh pun mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan bijak dalam menanamkan dananya. “Mesti diimbangi dengan peningkatan pemahaman mengenai investasi, tidak sekadar mengikuti tren. Sumber dana pun bukan berasal dari pinjaman,” ujar dia. “Kami berharap masyarakat lebih rasional dalam menentukan pilihan investasi.”

Chief of Retail and Small Medium Enterprise Business Bank Commonwealth, Ivan Jaya, mengatakan pasar obligasi masih akan menarik seiring dengan tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate sejak awal tahun lalu. “Yield yang ditawarkan obligasi Indonesia cukup tinggi dibanding emerging market lainnya,” katanya. 

Bank pun berupaya menghimpun dana kelolaan masyarakat melalui unit bisnis investasi atau wealth management. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, meluncurkan aplikasi Welma, yang dapat digunakan nasabah untuk melakukan transaksi produk investasi, seperti reksadana, obligasi, dan asuransi.

Wakil Presiden Direktur BCA, Suwignyo Budiman, mengatakan masih banyak masyarakat yang kebingungan ketika ingin memulai investasi. “Kami mencermati hal itu, sehingga meluncurkan aplikasi investasi dan proteksi berbasis digital bagi nasabah yang ingin melakukan investasi,” ucapnya.

Aplikasi Welma di Jakarta, 9 Februari 2021. Tempo/Bintari Rahmanita

Welma merilis fitur pendaftaran Single Investor Identification (SID) online yang memungkinkan nasabah mendaftarkan nomor SID mereka tanpa perlu datang ke kantor cabang. Aplikasi Welma telah diunduh oleh lebih dari 84 ribu pengguna dan menghasilkan lebih dari 75 ribu transaksi. Pada Januari 2021, nominal transaksi melalui Welma mencapai Rp 6,7 triliun.

Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Handayani, mengatakan dana kelolaan wealth management naik 17 persen, dengan posisi aset kelolaan Rp 132 triliun pada akhir November lalu. Surat berharga negara (SBN) menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati nasabah BRI. “Kami menawarkan produk yang aman, bekerja sama dengan manajer investasi ataupun sekuritas yang tepercaya dan berpengalaman,” ujar Handayani.

GHOIDA RAHMAH

JAKARTA -- Minat masyarakat untuk berinvestasi terus meningkat di tengah pandemi Covid-19. Chief Economist and Investment Strategies Manulife Asset Management, Katarina Setiawan, mengatakan saham dan obligasi menjadi pilihan investasi masyarakat karena menjanjikan keuntungan besar. Hal itu ditopang oleh tren positif indeks harga saham gabungan (IHSG), kebijakan moneter yang longgar, serta penguatan nilai tukar rupiah.

“Mitigasi pandem

...

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami:

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB