cloudfront
Senin, 06 Mei 2013
Forgot Password Register Langganan cari
Internasional
Senin, 06 Mei 2013
FREE!

Media Australia Serang Indonesia Soal Papua

JAKARTA - Surat kabar terbesar di Australia, Sydney Morning Herald, menuduh Indonesia "menculik" anak-anak Papua untuk diislamkan di pesantren-pesantren. "Anak-anak muda Papua Barat dipindahkan ke pesantren-pesantren di Pulau Jawa," tulis wartawan Sydney Morning Herald, Michael Bachelard. Ia menekankan mayoritas penduduk Papua beragama Kristen.

Dalam tulisan berjudul They're Taking Our Kids yang terbit pada Sabtu pekan lalu, penulisnya menyebutkan tulisan itu didasarkan pada investigasi sebuah organisasi bernama Good Weekend. Namun, surat kabar itu mengakui tidak dapat meminta konfirmasi keterlibatan pemerintah Indonesia dalam operasi yang didanai oleh salah satu bank pemerintah itu.

Media tersebut tampaknya menyamakan nasib Papua Barat dengan perlakuan pemerintah Australia terhadap suku Aborigin. Di bawah kebijakan pemerintah Australia pada 1910-1971, sebanyak 100 ribu anak-anak Aborigin diculik dari keluarga mereka untuk dididik secara Barat. Pemerintah Australia baru meminta maaf kepada "generasi yang hilang" tersebut kepada pemerintahan Perdana Menteri Kevin Rudd dan kemudian diikuti pemerintahan Julia Gillard.

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Mark Canning mengatakan soal pembukaan kantor Free West Papua di Oxford, Inggris, merupakan masalah sensitif bagi pemerintah Indonesia.

Dalam siaran pers yang diterima Tempo kemarin, Canning menegaskan pandangan Dewan Kota Oxford, terlebih visi Benny Wenda sebagai pemimpin Free West Papua tidak mewakili pandangan pemerintah Inggris.

"Dewan Kota Oxford, seperti halnya dewan-dewan lainnya di Inggris, bebas mendukung tujuan apa pun yang mereka inginkan. Mereka bukan bagian dari pemerintah. Segala bentuk tindakan mereka tidak ada hubungannya dengan pemerintah Inggris," katanya.

Meski pemerintah Inggris menghargai Papua sebagai bagian dari Indonesia, mereka sependapat dengan pernyataan perwakilan Komisi HAM PBB Navi Pilay bahwa masih ada pelanggaran HAM di Papua yang harus ditangani.

Masalah gerakan Papua Merdeka bukan pertama kali dihadapi Duta Besar Indonesia untuk London, Hamzah Thayeb. Ketika ditugaskan menjadi Duta Besar RI untuk Australia, Thayeb juga menghadapi peristiwa pemberian suaka politik terhadap 40 warga Papua oleh pemerintah Australia. Kala itu, Dubes Thayeb ditarik ke Jakarta sebagai protes kepada pemerintah Australia. NATALIA SANTI

Aneka Cara Menggoda Pemilih di Malaysia
Keluarga: Pulangkan Hambali ke Indonesia!


Arsip
Edisi Sebelumnya
Edisi Sebelumnya
Minggu, 05 Mei 2013

Bom Sisa Latihan Gabungan TNI Meledak, Dua Tewas

SITUBONDO -- Dua orang tewas akibat ledakan bom di dekat lokasi Pusat Latihan Tempur Puslatpur Karangtekok Situbondo pada pukul WIB